toggle menu

Public Information

News

Indonesia Eximbank news and announcements.

06 Dec 2019

LPEI Resmikan Desa Devisa di Jembrana

Jembrana, Bali, 6 Desember 2019 - Direktur Eksekutif Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI)/Indonesia Eximbank, Sinthya Roesly meresmikan Desa Devisa di Koperasi Kerta Semaya Samaniya (KSS), Jembrana, Bali. Koperasi ini berkegiatan usaha di sektor komoditi perkebunan kakao.

Desa devisa merupakan komunitas atau cluster tertentu yang berpotensi untuk melakukan aktivitas produksi secara berkelanjutan untuk ambil bagian dalam rantai pasokan ekspor global, baik secara langsung maupun tidak langsung. Program ini diinisiasi oleh Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) untuk memacu pertumbuhan ekonomi dan komoditi unggulan daerah dalam rangka ekspor.

Berdasarkan hasil kajian Institut Pertanian Bogor (IPB), pemilihan Koperasi KSS sebagai salah satu Desa Devisa dengan menggunakan beberapa aspek yang dijadikan indikator diantaranya adalah 1) aspek produksi, 2) aspek konsisten dan keberlanjutan produksi, 3) aspek pengembangan masyarakat desa dan koordinasi antar lembaga, 4) aspek koordinasi antar pemangku kepentingan desa devisa ekspor, 5) aspek brodusen dan manajerial, 6) aspek infrastruktur dan sarana penunjang lain. Penyusunan kajian ini dilakukan oleh IPB sebagai salah satu anggota UNIED (University Network for Indonesia Export Development) dengan LPEI.

Koperasi KSS yang berlokasi di Jembrana, Bali bagian Barat merupakan peserta program Community Development LPEI. Pendampingan telah dilakukan sejak tahun 2012, hingga mampu membantu Koperasi KSS untuk mendapatkan sertifikasi internasional untuk komoditas kakao, bantuan sarana produksi, serta sejumlah pelatihan terkait dengan ekspor. Pada tahun 2015, Koperasi KSS akhirnya mampu melakukan ekspor perdana ke Prancis. Sampai tahun 2019 ini, Koperasi KSS secara konsisten mampu melakukan ekspor ke sejumlah negara seperti Belgia, Prancis, Rusia dan Inggris. Produk kakao Jembrana Koperasi KSS memang memiliki keistimewaan, karena kakao terlebih dahulu melalui proses fermentasi yang terstandarisasi.

Keberhasilan ini juga dapat dirasakan langsung oleh masyarakat Jembrana. Setidaknya, hingga tahun 2018, 609 petani tercatat sebagai petani binaan dari Koperasi KSS. Selain itu para petani juga mampu meningkatkan kemampuan produksinya, di tahun 2012 hanya mampu menghasilkan biji kakao fermentasi sebanyak 2 ton dan ditahun 2017 meningkat menjadi 57 ton.

Sinthya Roesly menyampaikan bahwa pendampingan terhadap Koperasi KSS hingga menghasilkan sejumlah pencapaian merupakan cikal bakal dari program Desa Devisa.

“Kedepannya setelah Desa Devisa ini diresmikan, LPEI akan meneruskan pendampingan secara lebih mendalam dan berharap program ini nantinya secara nyata mampu berkontribusi terhadap Devisa Indonesia.”

Pada acara peresmian ini, hadir pula Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea Cukai (DJBC) Bali, NTB, dan NTT, Hendra Prasmono. DJBC pada acara ini juga memberikan fasilitas Kemudahan Impor Tujuan Ekspor (KITE) Industri Kecil Menengah (IKM) kepada Koperasi KSS. Fasilitas ini nantinya dapat digunakan Koperasi KSS untuk mendapatkan barang-barang impor denga harga lebih kompetitif yang akan digunakan Koperasi KSS untuk proses ekspornya.

Selain DJBC, Bupati Jembrana juga hadir pada peresmian desa devisa ini sebagai wakil pemerintah daerah. Pendampingan LPEI terhadap Koperasi KSS selama ini juga semakin optimal, juga dikarenakan kemudahan yang diberikan Pemerintah Daerah Jembrana. Sejumlah perizinan serta pendampingan juga diberikan oleh aparatur daerah Jembrana kepada Koperasi KSS.

Selain Aspek dampak sosial ekonomi sinergi antara pemerintah daerah, kementerian dan lembaga terkait serta masyarakat menjadi sangat krusial dalam program desa devisa. Saat ini terdapat 30 potensi desa devisa yang tersebar di seluruh Indonesia berdasarkan pemetaan komoditi unggulan lokal.

Program desa devisa ini nantinya dapat diimplementasikan di seluruh daerah di Indonesia. Sehingga kesejahteraan masyarakat Indonesia dapat ditopang oleh pengembangan produk unggulan daerah yang kedepannya dapat meningkatkan ekspor nasional.